TIP-TIP AGAR MABUNG BERJALAN DENGAN BAIK  

Posted by zry kendji in

Selama proses mabung berlangsung, lakukan hal-hal berikut ini:

1. Jika burung ditempatkan dalam sangkar, kerodonglah sangkar secara penuh dengan bahan yang bagus. Kerodong harus dapat menyerap dan mensirkulasi udara dengan baik. Perhatikan dalam pemilihan warna kerodong. Pilihlah kerodong yang tidak terlalu gelap dan tidak terlalu terang, agar burung dapat beristirahat secara baik.
2. Gantung sangkar pada tempat biasanya.
3. Pastikan tempat menggantung sangkar adalah tempat yang teduh karena murai batu merupakan binatang yang berendemik di kerimbunan pohon dan hutan.
4. Jangan diikut-sertakan pada perlombaan atau menggantungnya di kebun.
5. Siapkan fasilitas untuk mandi. Karena air merupakan salah satu kebutuhan burung untuk didis dan air membantu bulu baru untuk cepat tumbuh.
6. Pastikan bahwa makanan yang diberikan saat proses mabung berlangsung mencukupi kebutuhan takaran gizi. Jika memungkinkan dan bahannya mudah di dapat, berikan pakan hidup dengan prosentase 80 % dan atau beri tambahan pakan kering 20%.
7. Berilah vitamin-vitamin dan tambahan mineral yang baik. Dalam hal ini Vitamin B Komplek harus diberiokan 4 sampai 5 kali seminggu ditambah pemberian Vitamin E 3 kali seminggu. Vitamin E yang terkandung dalam minyak akan membuat bulu-bulu tampak mengkilat dan bersih.

Pengaruh dan Persyaratan Diet Selama Mabung  

Posted by zry kendji in

Ada dua hal yang diperlukan seekor burung agar proses mabungnya berjalan dengan baik dan sempurna. Pertama diperlukan diet yang baik dan kedua adalah istirahat yang cukup.

Diet

Selama masa mabung ini Murai Batu membutuhkan konsumsi protein dan makanan yang cukup gizi untuk merangsang pertumbuhan bulu baru secara memadai. Sedangkan vitamin dan mineral diperlukan untuk membantu proses pencernaannya. Oleh karena itu, kebutuhan protein yang dibutuhkan seekor burung yang ideal adalah tidak kurang dari 20% agar pembentukan bulu-bulunya dapat tumbuh dengan sempurna.

Selain itu asupan makanan tambahan seperti multivitamin dan mineral juga harus mencukupi. Sebagai contoh Vitamin B komplek merupakan sesuatu yang sangat penting. Vitamin B6 membantu metabolisme protein dan vitamin B12 membangkitkan nafsu makan burung dan juga membantu pencernaan. Vitamin E membantu serat-serat bulu tumbuh lebih sempurna dan kandungan minyak didalam vitamin tersebut mengkilatkan warna bulu sehingga bulu tampak lebih bersinar.

Idealnya asupan makanan pada saat mabung harus lebih banyak yang mengandung unsur-unsur yang dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan bulu. Asam amino sebagai struktur dasar pembentuk protein dan sulfur yang berisi asam amino methionin dan cistein merupakan substansi penting dalam pembentukan dan perkembangan bulu. Sumber makanan yang kaya protein ini terkandung dalam pakan hidup seperti serangga, karena serangga mengandung sulfur yang berisi asam amino, misalnya: jangkrik, ulat hongkong, ikan-ikan kecil, kecebong, kroto (telur semut) dan belalang.

Jika ditempat anda kebutuhan pakan hidup mudah di dapat, disarankan untuk mengubah setingan pemberian pakan hidup. Untuk masa-masa mabung komposisi pemberian pakan hidup sebaiknya 80% dan 30% untuk pakan kering. Setingan pemberian pakan hidup selama masa mabung hanyalah bersifat sementara saja. Jika masa mabung sudah selesai, pemberian pakan sebaiknya kembali ke setingan awal. (akan dibahas dalam artikel tersendiri). Sementara bagi anda yang susah mendapatkan stok pakan hidup, carilah pakan kering yang memenuhi standar kecukupan gizi sbb: 10% lemak, 0.5% – 1 % kalsium dan 30% - 40% protein.

Istirahat yang cukup

Selain diet, faktor yang tidak kalah penting adalah pemberian masa istirahat yang cukup. Saat mabung sifat agresifitas burung berkurang. Ini terjadi secara fisiologis karena perubahan pembentukan hormon yang berbeda. Dalam hal ini energi burung lebih difokuskan pada pertumbuhan bulu. Oleh karena itu, agar mabung berjalan secara maksimal, istirahatkan burung dari aktifitas rutin seperti: menjemur dibawah terik matahari langsung atau mengikut sertakan dalam lomba. Usahakan hindarkan konfrontasi dengan burung Murai Batu lain. Ini mutlak harus dilakukan agar burung tidak mengalami stres mabung.

Selain itu, tata letak sangkar juga harus baik. Carilah tempat yang bersirkulasi baik, sehat dan teduh. Jauhkan dari tempat yang bertekanan udara ekstrem, seperti perubahan panas dan dingin secara drastis. Jika burung ditempatkan dikandang yang besar, jauhkan dari gangguan atau kehadiran binatang-binatang pemangsa, seperti: kucing, tikus, ular, tokek dsb, agar masa istirahat tidak terganggu.

Stres Saat Mabung

Garis Stres

Terkadang kita melihat bulu-bulu pada seekor burung ada yang tumbuh tidak merata. Ada bagian yang tipis atau strukturnya yang tidak simetris. Biasanya pada bulu tersebut timbul semacam garis melintang terutama terlihat pada bagian ekor. Atau warna bulu yang tumbuh terlihat kusam. Hal ini terjadi karena burung kekurangan nutrisi dan kurang istirahat yang cukup. Nutrisi yang dimaksud adalah kurangnya kadar methionin dan cistein yang terkandung dalam protein (serangga).

Jika masa mabung di luar waktu yang seharusnya, burung akan mengalami apa yang di namakan Stres Saat Mabung. Akibatnya bulu-bulu saat rontok atau pada saat tumbuh hanya pada beberapa bagian saja (tidak merata). Biasanya terjadi pada bulu-bulu di bagian dada, dan parahnya jika terjadi pada bagian sayap dan ekornya. Hal yang paling ekstrem jika seluruh bulu yang ada mengalami kerontokan.

Bulu-bulu terdiri sekitar 20% sampai 25% dari berat tubuh burung dan pergantian bulu diluar waktu mabung berarti bahwa hormon testoteron akan berkurang karena burung akan dipaksa memproduksi hormon yang memicu mabung. Konsekuensinya adalah burung akan mengalami stress. Sedangkan stres yang dialami akan berakibat pada pertumbuhan yang tidak maksimal. Untuk memperbaiki kondisi ini harus menunggu mabung periode tahun berikutnya.

Hal-hal lainnya yang menjadi faktor penyebab stres pada saat mabung, yaitu:

1. Kemungkinan burung melihat atau mendengar suara tikus, tokek, kucing atau gangguan dari makhluk-makhluk lainnya yang mengganggu waktu istirahatnya pada malam hari. Solusinya, redupkan sinar lampu atau ganti bohlam yang tidak terlalu terang, sehingga burung tidak dapat melihat secara langsung makhluk-makhluk pengganggu. Meski burung masih mendengar suara-suara, tetapi dengan tidak melihat wujud makhluk pengganggu secara langsung akan mengurangi kepanikan burung tersebut.
2. Perubahan temperatur yang ekstrem di sekitar area kandang atau sangkar burung. Solusinya, periksa temperatur ruangan dan pastikan suhu dalam ruangan tetap terjaga.
3. Mendengar suara dari murai batu lainnya. Salusinya, jauhkan burung anda dari gangguan suara sesama burung murai lainnya.
4. Faktor Pemberian Air Minum, Solusinya ganti air minum setiap hari, karena setelah 24 jam kandungan klorin dalam air akan menguap karena pengaruh suhu dan sinar.
5. Adanya pakan kering (voor) yang tidak/kurang disukai burung, sehingga burung malas makan dan menghambur-hamburkan makanan tersebut. Solusinya, ganti dengan pakan kering jenis lainnya.
6. Khusus untuk burung dalam Sangkar, kebiasaan menggantung sangkar ditempat yang terlalu banyak angin atau ditempatkan di dekat jendela, membuat burung tidak tenang karena temperatur/suhu di dekat jendela sering tidak konstan. Solusinya, carilah/pindahkan ke tempat yang nyaman dan bersirkulasi baik.

SUB SPESIES MURAI BATU (Copsychus Malabaricus)  

Posted by zry kendji in

Pada umumnya hobbies di Indonesia lebih mengenal burung Murai Batu pada satu jenis saja, yaitu sub-spesies Copsychus Malabaricus Tricolor (White-rumped Shama). Sub-spesies ini mempunyai corak tiga warna, yaitu hitam, coklat dan putih. Warna dominan pada kepala, leher punggung dan ekor umumnya berwarna hitam. Warna dada dan perut berwarna coklat, sedangkan punggung bagian bawah (pantat) dan bulu ekor sekunder berwarna putih.

Sub spesies Copsychus Malabaricus Tricolor (White rumped Shama)

Sub spesies ini paling banyak ditemukan di P. Jawa dan P. Sumatera. Karena perbedaan habitat dan letak geografi masing-masing tempat yang berbeda-beda, maka sub spesies inipun mempunyai perbedaan fisik yang mencolok. Untuk Murai Batu yang hidup di Pulau Jawa, masyarakat local lebih mengenal dengan sebutan burung Larwo (Copsycus Malabaricus Tricolor-Javanus). Burung jenis ini sudah diindikasikan sangat langka (mungkin juga sudah punah).

Sementara sub spesies yang hidup disekitar selat sunda, Krakatau, pesisir dan pedalaman lampung, masyarakat mengenal dengan nama Murai Batu Lampung. MB ini mempunyai panjang ekor kira-kira 10 cm – 12 cm. Bagi para hobbies yang sering mengikuti kompetisi burung berkicau, jenis ini kurang diminati. Beberapa beralasan bahwa MB jenis ini bermental rendah dan kicauannya kurang bagus.

MB Lampung
Foto: Murai Lampung

Untuk kepentingan lomba atau kompetisi burung berkicau, para hobbies di Indonesia lebih menyukai MB Jambi. Mereka beralasan selain kemerduan suaranya, burung jenis ini mempunyai stamina dan gerakan ekornya yang indah. Mungkin mereka benar karena struktur tubuhnya yang sedang dengan panjang ekor berkisar antara 14 cm – 17 cm memungkinkan burung tersebut bergerak lincah dan tidak terbebani dengan berat dan panjang ekornya. MB Jambi secara alamiah hidup disekitar Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Kepulauaan Mentawai & Siberut serta semenanjung Bukit Barisan.

MB Jambi 2
Foto: Murai Jambi


Jenis lainnya adalah Murai Batu Medan atau Murai Batu Aceh, sebenarnya sebutan MB Medan adalah sebutan untuk MB yang berasal dari Provinsi Aceh dan daerah sekitarnya. Sebutan ini melekat karena pusat perdagangan terbesar dan pengepul ada di daerah Medan, tepatnya Pasar Burung Bintang. Di Provinci ini juga hidup berbagai jenis murai batu yang lainnya, salah satunya adalah MB ekor Hitam dan Jenis ini lainya mempunyai body lebih besar dan ekor yang cukup panjang sekitar 20 cm – 25 cm dan yang mempunyai ekor lebih panjang lagi yaitu sekitar 25cm – 30cm. MB Medan dan MB Aceh sangat diminati, bahkan sudah menjadi hewan peliharaan yang paling favorit. Selain suaranya yang merdu, penampilannya pada saat berkicau sangat atraktif, yaitu kemampuan mengayun-ayunkan ekornya (nge-fl) Meskipun demikian MB jenis ini jarang sekali diturunkan atau dibawa oleh para hobies arena kompetisi.

MB Medan
Foto: Murai Medan

Jenis Murai Batu lain yang berekor panjang selain ditemukan di provinsi Aceh, juga ditemukan di Penang, Malaysia, Burma, Kamboja, Myanmar dan Thailand. Secara fisik bentuknya sama, perbedaanya barangkali pada tebal tipis ekornya saja. Murai Batu di Malaysia relatif mempunyai ekor yang panjang dan tipis, berpostur agak kecil. Sedangkan Murai Batu yang paling dicarai oleh hobbies dari Singapura dan Malaysia adalah Murai Batu yang hidup diperbatasan Thailand dan Malaysia. Walaupun secara fisik bodynya lebih kecil dari Murai Batu Aceh, tetapi memiliki ekor r yang lebih panjang dan warna hitamnya agak mengkilat dan berwarna indigo (kebiruan).

Perhatikan dengan seksama perbedaan foto Murai Batu berikut:

Photobucket
Foto: Koleksi David

Photobucket
Foto: Koleksi David

Photobucket
Foto: Koleksi David

MB Thai-Malays
Foto: Koleksi David

Sub –spesies Copsychus Malabaricus Melanurus (Black-tailed Shama)

Sub-spesies ini di Indonesia dikenal dengan sebutan Murai Nias atau Murai Batu Nias, karena populasi dan habitatnya kebanyakan ada di P. Nias dan daerah sekitarnya. Burung ini juga ditemukan disebagian wilayah provinsi Aceh. Selain bersuara merdu, burung ini juga tidak terlalu agresif sehingga bagi para hobbies yang ingin mengembang-biakan burung ini, relatif lebih mudah dibandingkan dengan jenis lain yang mempunyai tiga warna. Hewan ini relatif lebih sayang terhadap anak-anaknya, sehingga jarang ditemukan kasus indukan Murai Nias membunuh anaknya sendiri.

Berdasarkan hasil observasi di lapangan, burung jenis ini susah sekali ditemukan atau dipelihara oleh para hobies di Indonesia. Hal ini ada berbagai faktor:
1. Faktor Tujuan Kompetisi
Karena sistem penjurian lebih mengedepankan aspek suara dan mental, para hobbies di tanah air, kurang menyukai burung ini karena kurangnya agresifitas pada saat dilombakan, mereka lebih menyukai burung dengan tipe agresif (fighter).
2. Faktor Exodus Perdagangan
Burung jenis ini merupakan burung yang popular dan paling dicari di Malaysia dan Singapura. Karena sistem kompetisi mereka berbeda dengan di Indonesia, minat mereka untuk memiliki sangat tinggi. Hal ini disebabkan burung ini mudah jinak dan bersuara sangat merdu dan variatif, sehingga cocok untuk dijadikan binatang peliharaan dirumah. Hal inilah yang mendorong pedagang dan pengepul burung melakukan ekspor besar-besar ke sana. Harga per ekor untuk ukuran panjang ekor 10cm-20 cm sekitar US$200.00. Bahkan pernah ditemukan ada yang mempunyai panjang ekor 25cm-30 cm, tetapi kualitas suaranya jauh dari yang pertama.

Photobucket
Foto: Koleksi Pribadi

Sub–spesies Copsycus luzoniensis (White-browed Shama)

Habitat ditemukan Philipina

MB coklat hitam putih

Sub-spesies Copsychus M. Stricklandii (White-capped Shama)

Ada dua jenis. Habitatnya di P. Borneo (Kalimantan-Indonesia), Sarawak dan Sabah (Malaysia).

MB ekor coklat
Ekor Coklat

Dan

Photobucket
Ekor Hitam & Putih

Sub-spesies Copsychus Niger (White-vented Shama)

MB Hitam Putih
Habitat: Sabang, Palawan-Philipina

Sub-spesies Copsycus Cubuensis (Black shama)

MB Hitam Pekat
Habitat: Philipina

******

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Masa Mabung pada Murai Batu  

Posted by zry kendji in

Di alam liar, siklus mabung pada Murai Batu dipengaruhi oleh perubahan iklim dan lingkungan. Biasanya periode mabung bersamaan waktunya pada setiap tahunnya. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi adalah perubahan suhu, curah hujan, tekanan udara serta kelembaban di sekitarnya. Jika waktu mabung tiba, Murai Batu secara genetik akan mulai memproduksi hormon dalam tubuhnya. Hormon-hormon tersebut nantinya akan memicu pertumbuhan bulu baru, sebagai konsekuensinya bulu-bulu lama berangsur-angsur akan rontok. Untuk beberapa bulan, burung memerlukan waktu istirahat yang cukup dan tempat yang nyaman dari gangguan, agar pertumbuhan bulu baru dapat tumbuh dengan sempurna.

Sementara itu, burung yang dipelihara dalam sangkar masa mabungnya berbeda dengan burung yang hidup di alam. Hal ini dikarenakan oleh faktor perlakuan yang berbeda, jenis makanan dan konfrontasi dengan burung Murai lainnya (biasanya terjadi pada burung lomba). Periode mabung pada burung ini hanya diketahui oleh orang yang sudah lama memelihara dan merawatnya. Berdasarkan pengalaman, para hobbies biasanya tahu betul, kapan saatnya burung akan mabung. Untuk itu diperlukan persiapan khusus agar burung dapat menjalani proses mabungnya dengan sempurna. Salah satunya adalah mengistirahatkan burung di arena perlombaan dan mempersiapkan diet yang memadai.

Persiapan Menghadapi Perkembang-Biakan Murai Batu  

Posted by zry kendji in

Sebelum musim hujan atau musim perkembang-biakan tiba, penangkar burung harus mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan itu, seperti Kandang Penangkaran, Suplai Makanan dan Kotak atau Bahan Pembuat Sangkar. Sebaiknya lokasi kandang jauh dari tikus, semut, cicak atau tokek. Karena binatang-binatang tersebut merupakan hewan pengganggu yang dapat merusak kenyamanan & keamananan burung.

1. Kandang Penangkaran

Photobucket

Sebaiknya kandang penangkaran berukuran besar dan mencukupi, walaupun ini tidak berarti ukuran sebuah kesuksesan dalam penangkaran, tetapi tersedianya ruangan yang cukup membuat burung lebih bebas dan rilek untuk melakukan berkembang-biakan. Kandang penangkaran yang ideal minimal berukuran 1,5 meter x 2 meter dengan ketinggan 2,5 – 3,5 meter. Tempat sebaiknya jauh dari bayangan atau lalu lalang manusia agar burung dapat melakukan aktifitas perkembang-biakan dengan nyaman. Karena kondisi yang nyaman akan membuat proses kawin, peneluran, pengeraman dan penetasan telur berjalan dengan lancar.

Sediakan tangkringan yang cukup agar kelak, setelah anak-anak burung menetas dan besar, mereka dapat belajar terbang dengan cepat, selain itu anak burung dapat mengontrol saat mereka terbang sehingga kemungkinan mereka terjatuh saat berlatih terbang dapat dihindari.

Selain itu persiapkan juga bahan-bahan pembuat sarang, seperti: kain perca, ranting-rantai kecil, serat pohon, serabut kelapa, daun cemara (pinus) kering, dll. Disarankan untuk menggunakan daun cemara (pinus) kering, karena memiliki tekstur yang lembut dan mudah untuk dipintal menjadi sarang.

Jika bahan-bahan telah dipersiapkan, sebarkan di lantai kandang agar proses pembangunan sarang secara alamiah dapat dilakukan. Jangan sekali-kali menempatkan bahan-bahan tersebut langsung di kotak sarang. Cara menebarkan bahan-bahan ke lantai kandang juga akan merangsang Murai Betina untuk segera melakukan perkawinan. Indikasinya adalah jika Murai Betina membawa beberapa helai bakal sarang di dalam wadah air untuk mandi. Jika ini terjadi berarti Murai Betina siap untuk kawin atau dibuahi.

2. Suplai Makanan

Selama masa perkembang-biakan dan pembesaran anakan, sediakan pakan yang memenuhi standar gizi yang cukup, baik itu pakan kering (voor) maupun pakan hidup. Pakan hidup seperti serangga, ikan-ikan kecil, kecebong, ulet hongkong, belalang, siput, belalang sangat bermanfaat dan merupakan ketersediakan pakan yang sangat baik. Ikan dan kecebong merupakan sumber kalsium yang diperlukan untuk membentuk kulit telur (cangkang) dan pertumbukan tulang anak burung. Pemberian suplai pakan hidup yang bervariasi sangat diperlukan agar kebutuhan nutrisi terpenuhi dan burung lebih sehat.

Photobucket
Ulet Hongkong (mealworm)

Photobucket
Belalang

Photobucket
Ikan kecil (guppies)

Photobucket
Kecebong (baby frog)

Jika pakan hidup susah di dapat, anda dapat menggantinya dengan pakan kering (voor). Asal memenuhi kecukupan standar gizi yang diperlukan oleh burung. Untuk itu mesti secara jeli harus dicarikan voor yang mengandung multi vitamin dan mineral yang cukup. Paling tidak makanan harus mengandung unsur lemak 10%, kalsium 0.5 – 1%, protein 30% - 40%.

Tempat Makanan:

Tempat/wadah makanan dapat berupa kotak yang terbuat dari plastik atau kayu. Untuk pakan hidup seperti jangkrik, ulet hongkong, ikan kecil, kecebong dianjurkan menggunakan kotak yang terbuat dari plastik, agar jangkrik tidak melarikan diri keluar. Jika anda memberi pakan belalang, caranya bahkan lebih mudah, yaitu dengan melepaskannya begitu saja di dalam kandang.

Photobucket
Tempat Makanan

Wadah makanan kering (voor) dan air minum sebaiknya di tempatkan di area yang dekat dengan sarang burung.

3. Bak Pemandian

Sebaiknya pisahkan letak wadah air minum dengan bak pemandian. Sangat dianjurkan apabila bak pemandian dilokasikan dibawah alas kandang atau di dekat wadah pakan hidup. Karena cuaca yang sering berubah, ketersediaan bak pemandian akan membantu burung menyeimbangkan suhu badannya.

Catatan: Air minum dan air untuk mandi sebaiknya sering diganti, agar kesehatan burung dapat terjaga.

4. Kotak Sarang

Kotak sarang harus sudah dipersiapkan terlebih dahulu sebelum perkembang-biakan dilakukan. Disarankan untuk memasang dua kotak sarang (di double pasangkan), agar kita dapat mengetahui isi di dalam sarang dan mudah melepaskan sarang untuk memeriksa telur dan anak burung.

Photobucket
Kotak sarang (nest box)

Ukuran bagian dalam kotak minimal harus 13cm x 13cm dan tinggi 8cm - 10cm. Bagian luar kotak harus lebih besar dan ramping untuk memasukkan kotak bagian dalam. Ukuran berkisar 20cm sampai 30cm tergantung pada ukuran panjang ekor Murai Jantan-nya, sehingga ekor-nya tidak rusak saat masuk dan mengerami telur, sedangkan tinggi kotak sarang dari permukaan tanah yang ideal adalah di atas pintu masuk kandang. Untuk perkiraan besarnya kandang yang di bahas dalam artikel ini kira-kira 2.5m-3m dari permukaan tanah.

Pengaruh Musim Terhadap Pola Hidup Murai Batu.  

Posted by zry kendji in

Photobucket

Siklus kehidupan Murai Batu di alam liar diatur oleh perubahan iklim. Selama musim hujan, dimana air hujan tumpah sepanjang hari, merupakan masa-masa tersulit bagi Murai Batu untuk mencari pakan hidup seperti serangga. Oleh karena itu burung mengatur perkembang biakan dan masa rontok bulu (mabung)-nya pada masa sebelum musim hujan. Karena pada masa-masa tersebut persediaan makanan di alam berlimpah sehingga kebutuhan nutrisi mereka dapat terpenuhi.

Aktifitas perkembang biakan burung-burung tropis, termasuk Murai Batu dimulai pada akhir musim hujan antara bulan Januari dan berlanjut sampai akhir Agustus. Bersamaan dengan perkembang biakan tersebut, burung juga mengalami periode tahunan pergantian bulu yang ditandai oleh rontoknya bulu-bulu lama untuk digantikan dengan bulu-bulu baru (mabung) dan proses ini akan paripurna sebelum musim penghujan mendatang tiba.

Untuk burung-burung peliharaan yang ditempatkan dikandang besar (aviary) untuk kepentingan penangkaran, musim perkembang biakannya kurang dipengaruhi oleh perubahan musim dan cuaca. Karena, kebutuhan pakan sudah terpenuhi secara cukup, meskipun demikian burung mengalami efek depresi dan naluri alamiah saat musim hujan tiba untuk melakukan perkembang biakan. Untuk burung yang ditempatkan disangkar-sangkar gantung sebagai hewan peliharaan ataupun untuk kepentingan lomba, datangnya musim hujan berarti kesempatan untuk mengistirahatkan burung tersebut. Karena pada masa-masa ini, burung mengalami masa mabung yang memerlukan istirahat yang cukup. Kebutuhan istirahat pada masa mabung ini, tidak hanya secara fisik saja tetapi diperlukan istirahat secara mental, agar kelak, bulu-bulu yang tumbuh merupakan bulu-bulu yang tumbuh secara sempurna. Untuk itu jauhkan burung dari rasa stress yang mengganggu dan tutuplah sangkar burung dengan kain yang rapat.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Masa Mabung pada Murai Batu  

Posted by zry kendji in

Di alam liar, siklus mabung pada Murai Batu dipengaruhi oleh perubahan iklim dan lingkungan. Biasanya periode mabung bersamaan waktunya pada setiap tahunnya. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi adalah perubahan suhu, curah hujan, tekanan udara serta kelembaban di sekitarnya. Jika waktu mabung tiba, Murai Batu secara genetik akan mulai memproduksi hormon dalam tubuhnya. Hormon-hormon tersebut nantinya akan memicu pertumbuhan bulu baru, sebagai konsekuensinya bulu-bulu lama berangsur-angsur akan rontok. Untuk beberapa bulan, burung memerlukan waktu istirahat yang cukup dan tempat yang nyaman dari gangguan, agar pertumbuhan bulu baru dapat tumbuh dengan sempurna.

Sementara itu, burung yang dipelihara dalam sangkar masa mabungnya berbeda dengan burung yang hidup di alam. Hal ini dikarenakan oleh faktor perlakuan yang berbeda, jenis makanan dan konfrontasi dengan burung Murai lainnya (biasanya terjadi pada burung lomba). Periode mabung pada burung ini hanya diketahui oleh orang yang sudah lama memelihara dan merawatnya. Berdasarkan pengalaman, para hobbies biasanya tahu betul, kapan saatnya burung akan mabung. Untuk itu diperlukan persiapan khusus agar burung dapat menjalani proses mabungnya dengan sempurna. Salah satunya adalah mengistirahatkan burung di arena perlombaan dan mempersiapkan diet yang memadai.